TITLE : ARE U MINE?
CHAPTER : 1/??
PAIRING : REITA X MIKO, TORA X HARUNA, DLL.
FANDOM : EXIST TRACE, ALICE NINE, THE GAZETTE,
SCANDAL, etc.
GENRE : ROMANCE(???)
RATING : PG-13
DISCLAIMER : maunya sih mereka milikku. Tapi apa daya gunung keburu meletus.
Nih cerita Cuma fiksi. Jangan dianggap serius dan ku
copas dari blog ku yang lain dan ku edit ulang.
Enjoy
the fic………
Siang
ini begitu cerah. Seorang anak laki-laki duduk di bawah pohon rindang di taman
belakang sekolah. Tampaknya dia sedang membaca sebuah buku dengan hikmat. Baju
seragamnya yang dikeluarkan membuat tampilan dirinya jadi telihat sedikit
urakan. Walaupun tanpa sengaja dia keluarkan. Sesekali terlihat seringai senyum manis di bibirnya yang
tipis dan berwarna pink. Rambut yang di cat merah pun jadi mendukung tampilan
urakannya. Tapi tetap saja wajahnya terlihat imut.
“Reita-kun
kau di panggil sama Tora di lapangan basket sekarang juga.” Tiba2 suara anak
laki2 tersebut mengusik ketenangannya.
“Ada
apa sih? Mengganggu saja.” Katanya sambil bangkit berdiri, menutup majalah yang
sedang di bacanya. Majalah SHOXX. “Aku ke sana sekarang.”
Orang itu tak bisa apa melihat
orang santai dikit. Ga tau gue lagi baca majalah tentang The GazettE ya?? Ga
tau gue ngefans sama mereka apa?
(lha???
Bukannya situ bassistnya, Reita san?)
Setibanya
di lapangan basket Reita langsung menghampiri sang kapten basket. Hemm… lumayan
tuh kapten basket. Tampilannya ga jauh beda dengan Reita. Sedikit urakan. Tapi
itu malah membuatnya semakin terlihat keren. Tubuhnya tinggi. Sekitar 180an.
Matanya sedikit berwarna biru. Terlihat dia seperti bukan orang jepang asli.
Wajahnya yang terlihat dingin seolah-olah memperlihatkan keangkuhan. Tapi tetap
saja dapat menarik perhatian para wanita di Hoshigaoka Internasional School.
Salah satu sekolah ternama di jepang. Meski pun berteman dengan seorang pemain
basket handal tetapi Reita bukanlah salah satu anggota klub basket tersebut.
Reita
dan Tora sudah berteman dari kecil. Bisa dibilang dari SD. Mereka tak sengaja
bertemu saat di musim panas. Saat itu Reita (bayangin reita kecil pake nosben.
Hihihi…) sedang dikejar-kejar oleh anjing galak. Karena panik, tanpa mikir
Reita langsung mengambil tindakan dengan naik ke atas pohon. Sebenarnya dia tak
pandai manjat pohon, tapi yah yang namanya orang panic yang tadinya tidak bisa
ya jadi bisa. Lalu tiba-tiba datang seorang anak laki-laki menghampiri Reita,
yang sepertinya dikenal oleh Reita.
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
“Kau
sedang apa?” Tanya anak laki-laki yang menghampiri Reita.
“Kau
tidak lihat aku sedang dikejar-kejar oleh anjing itu.” Kata Reita sambil
menunjuk ke arah anjing yang sedang menunggunya dari bawah. Seolah-olah siap
menerkam Reita bila dia turun dari atas pohon.
“Oh
maaf,” kata anak laki-laki itu.
“Untuk
apa?” Tanya Reita.
“Dia
anjingku. Tadi terlepas dari rantainya saat aku sedang membawanya jalan-jalan
ke taman. Tapi syukurlah sekarang sudah aku temukan.” Ujar anak laki-laki itu
sambil memasangkan rantai anjingnya kembali. “Kau bisa turun sekarang.”
“…”
“kenapa?”
“eee… e
to….”
“kau
tidak bisa turun?”
Reita
hanya bisa nyengir dan menggaruk
kepalanya yang tak gatal.
“Aneh.
Kau bisa naik tapi tak bisa turun.”
“Itu
karena aku sedang panik makanya aku bisa naik. Tapi sekarang aku sudah agak
tenang. Jadi aku bingung bagaimana caranya turun. Sebenarnya aku tak bisa naik
pohon.”
“Ck…
baiklah aku bantu.”
“eh?
Yang bener?”
“iya.
Kau tunggulah di sana.”
Kemudian
anak laki-laki itu mulai menaiki pohon dengan lihai. Sejurus kemudian dia sudah
sampai di tempat Reita berada. Entah bagaimana caranya anak tersebut berhasil
menurunkan Reita.
“Domo arigatou,”
ucap Reita sambil membungkukkan badannya.
“Douitashimashite.”
“Itu
anjingmu?”
“Iya.
Namanya Fuka.”
Reita
memperhatikan Fuka yang sedang bermanja-manja di kaki anak itu. Jenis anjing
Siberian Husky yang berwarna hitam putih. Mirip serigala.
“Aku
Suzuki Akira. Panggil aku Reita,” Nao mengulurkan tangannya.
“Aku
Amano Shinji. Panggil saja Tora,” anak itu -Tora- manyambut uluran tangan Nao.
“Tapi
sepertinya aku pernah melihatmu,”kata Tora menyipitkan matanya.
“Kita
satu sekolah di SD Haze. Kau anak kelas 4-B kan?”
“Iya,”
“Kalau
aku kelas 4-A.”
Saat
itulah pertemanan Reita dan Tora menjadi semakin akrab. Segala hal mereka lalui
bersama. Hampir tak ada rahasia di antara mereka. Dari SD,SMP, hingga SMA
mereka satu sekolah. Dan disinilah mereka sekarang sekolah. Di SMA Hoshigaoka.
#*#*#*#*#*#*#*#*#*
“Ada
apa kau memanggilku Tora. Kau tidak tau
kalau aku sedang ngadem di bawah pohon sakura sambil baca nih majalah apa??”kata
Reita sebel sambil mengacung-acungkan majalah SHOXX yang baru dia beli tadi.
“Ya aku
tau makanya aku memanggilmu.” katanya sambil tersenyum yang jarang sekali di
perlihatkannya.
“Hah??
Apa hubungannya??” Tanya Reita heran.
“Aku
mamanggilmu karena aku ingin minta tolong padamu.” Kata Tora.
“Minta
tolong apa?”Tanya Reita penasaran.
“Tolong
jemput sepupuku di SMA Chizuru.” Kata Tora sambil menepuk bahu Reita pelan.
Reita sedikit bengong. “Bisakan??” Tanya Tora memecahkan ke-bengong-an Reita.
“Kenapa
kau tidak menjemputnya sendiri?? Emang kau sendiri mau kemana?”Tanya Reita.
“Aku
ada urusan sebentar dengan sekolah2 lain untuk ikut rapat mengenai pertandingan
kita di pekan olahraga nanti.”
“oh…”
Kemudian seperti teringat sesuatu Reita berseru, “Eh, emang kau punya sepupu??”
“Iya.
Baru tau?”
“Sejak
kapan kau punya sepupu? Kenapa aku tidak tau selama ini. Kau tidak cerita
padaku. Padahalkan kita udah lama berteman,” rentet Reita.
“Gomen
ne. Dia baru pindah kesini dua minggu yang lalu. Jadi dia belum terlalu
mengerti dengan jalanan sekitar sini.”
“oh…”
“Jadi?”
“Jadi
apa?” Tanya Reita bingung.
Tora
menghela nafas dalam-dalam berusaha sabar untuk tidak menarik noseband
Reita. “Kau mau
menjemputnya atau tidak?!”
“oh
oke. Kapan harus ku jemput?”
“
sekarang.”
“Ciri-cirinya?”
“Rambutnya
hitam panjang. Tubuhnya pendek sekitar 160an. Kulitnya putih seperti susu agak pucat, matanya coklat hazel dan dia
memakai kalung dengan liontin yang seperti gembok. Dan dia seorang anak
laki-laki.” Terang Tora panjang lebar kali tinggi sama dengan volume.
“oke.
Aku jemput dia sekarang. Jya mata nee…” ucap Reita sambil melambaikan
tangannya.
Kemudian
tak kurang dari satu menit Reita kembali lagi.
“kenapa
kembali? Ada yang tertinggal?” Tanya Tora heran.
Yang
ditanya malah cengengesan. Sambil memasang senyum pepsodent Reita bertanya “
eto.. aku lupa sekolah sepupumu di mana ya?”
Tora
menepok jidatnya. “SMA Chizuru Rei…” Jawabnya sambil menahan emosi. “Kau tau
kan letaknya di mana. Oh jangan bilang kau tidak tau sekolah itu ada di mana?”
“Tau
kok. Tenang saja. Jya~”
“oh iya
Reita!!” panggil Tora.
Reita
membalikkan badannya. “kenapa?”
“Hati-hati
jangan sampai terpesona,” kata Tora sambil memasang senyum yang tak bisa
diartikan.
Reita
menaikkan alisnya. Heran dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Tora tadi.
Tapi Reita tak ambil pusing dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh sahabat
dari kecilnya itu.
Reita mulai memacu mobilnya untuk meninggalkan parkiran Hoshigaoka dan
segera menuju ke SMA Chizuru.
Sekolah
itu tak terlalu jauh dari Hoshigaoka sebenarnya. Reita mulai mencari sosok yang
di sebut sebagai sepupu Tora. Dengan mengingat ciri2 yang diberikan oleh Tora dia
mulai mencocokkan dengan siswa-siswa yang bersekolah di situ. Beberapa pasang
mata melihat Reita dengan tatapan kagum plus berbinar-binar. Bagaimana tidak?
Secara tampangnya keren banget. Manis pula saat dia tersenyum. Sang author aja
sampe ga bisa mengedipkan mata saat melihat Reita tersenyum (lebay.com).
Mana sih anaknya?kok ga ada?
Reita
terus mencari. Reita berniat untuk menanyakan orang yang dimksud kepada
siswa-siswa yanga ada di sana. Tapi dia lupa…
“Ah
sial!!” umpat Reita pada dirinya sendiri.
“Kenapa
tadi aku tak menanyakan namanya pada Tora? Mana aku ga bawa hp lagi. Astaga
bodoh sekali aku ini. Repot deh kalo gini.” Gumam Reita menyesali perbuatannya.
Namun,
tiba-tiba mata Reita berhenti pada sesosok makhluk yang sedang duduk di bawah
pohon sambil mengerjakan sesuatu di bukunya. Sosok itu mirip sekali dengan
ciri-ciri yang dikasih tau Tora tadi. Terlebih lagi pada liontin kalung yang
dipakainya berbentuk sperti gembok.
Apakah itu dia?
Tanpa
pikir panjang lagi Reita menghampiri makhluk itu.
“Ngg…
sumimasen,” sapa Reita ragu-ragu.
Sosok
itu pun menoleh, menengadahkan kepalanya pada Reita.
“Ya,”
jawab orang itu polos.
To be
continued…………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar