1. Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan (Inggris:
Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses
mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut
bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan
sesuatu. Hasil
akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada
kondisi risiko atau ketidakpastian.
2. Ruang Lingkup
dan Proses Terbentuknya Kewirausahaan
Ruang
lingkup kewirausahaan sangat luas sekali. Secara umum, ruang lingkup
kewirausahaan adalah bergerak dalam bisnis. Jika diuraikan secara rinci ruang
lingkup kewirausahaan, bergerak dalam bidang:
a. Lapangan agraris
b. Lapangan perikanan
c. Lapangan peternakan
d. Lapangan perindustrian dan kerajinan
e. Lapangan pertambangan dan energi
f. Lapangan perdagangan
g. Lapangan pemberi jasa
a. Lapangan agraris
b. Lapangan perikanan
c. Lapangan peternakan
d. Lapangan perindustrian dan kerajinan
e. Lapangan pertambangan dan energi
f. Lapangan perdagangan
g. Lapangan pemberi jasa
Kewirausahaan
diawali dengan adanya Inovasi, di dukung oleh kejadian pemicu, di
implementasikan, kemudian akhirnya tumbuh dan berkembang.
3. Disiplin Ilmu Kewirausahaan dan
Perkembangannya
Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada
identifikasi peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari
wirausaha dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi
ekonomi agregat.
Studi kewirausahaan kemudian berkembang dalam disiplin ilmu lain yang
penekanannya pada sang wirausaha sendiri. Dalam bidang ilmu psikologi, misalnya
studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan
pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial
dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray dan Ranachandran
(1996) menandaskan, walau terdapat perbedaan sudut pandang, penelitian yang
dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap bepijak
pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro.
Dengan demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan
yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memengaruhi.
4. Kewirausahaan dilihat dari berbagai
sudut pandang
Terlepas dari berbagai definisi
kewirausahaan yang dikemukakan oleh para ahli, wirausaha dapat dipandang dari
berbagai sudut dan konteks, yaitu ahli ekonomi, manajemen, pelaku bisnis,
psikolog dan pemodal.
Pandangan Ahli Ekonomi
Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah
orang yang mengkombinasikan factor-faktor produksi seperti sumber daya alam,
tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang
lebih tinggi dari sebelumnya. Wirausaha juga merupakan orang yang memperkenalkan
perubahan-perubahan, inovasi dan perbaikan produksi lainnya. Dengan kata lain,
wirausaha adalah seseorang atau sekelompok orang yang mengorganisasikan
factor-faktor produksi, sumber daya alam, tenaga, modal dan keahlian untuk tujuan
memproduksi barang dan jasa.
Pandangan Ahli Manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki
kemampuan dalam menggunakan dan mengkombinasikan sumber daya seperti keuangan,
material, tenaga kerja, keterampilan untuk menghasilkan produk, proses
produksi, bisnis dan orgasisasi usaha baru (Marzuki
Usman, 1997:3). Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi
unsur-unsur internal yang meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimism,
dorongan, semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang usaha.
Pandangan Pelaku Bisnis
Menurut Scarborough dan Zimmerer (1993 :
35), wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru dalam menghadapi
resiko dan ketidakpastian dengan maksud untuk memperoleh keuntungan dan
pertumbuhan dengan cara mengenali peluang dan mengkombinasikan sumber-sumber
daya yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Menurut Dun Steinhoff dan John F.
Burgess (1993 : 35), pengusaha adalah orang yang mengorganisasikan, mengelola
dan berani menanggung resiko sebuah usaha atau perusahaan. Sedang wirausaha
adalah orang yang menanggung resiko keuangan, material, dan sumber daya
manusia, cara menciptakan konsep usaha yang baru atau peluang dalam perusahaan
yang sudah ada.
Dalam konteks bisnis menurut Sri Edi
Swasono (1978 : 38), wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha
adalah wirausaha. Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, innovator, penanggung
resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di
bidang usaha.
Pandangan Psikolog
Wirausaha adalah orang memiliki dorongan
kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka
bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain.
Pandangan Pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan
kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan
sumber daya, mengurangi pemborosan dan membuka lapangan kerja yang disenangi
masyarakat.
5. Teori Life Path Change
Menurut Shapero dan Sokol
(1982) dalam Sundjaja (1990), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang
mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha
justru tidak memaluli proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:
Negative displacemen.
Seseorang bisa saja
menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina
atau mengalami kebosanan selam bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah
asal. Atau bisa juga
karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya.
Banyaknya hambatan yang dialami keturunan Cina untuk memasuki bidang
pekerjaan tertentu (misalnya menjadi pegawai negeri) menyisakan pilihan
terbatas bagi mereka. Di sisi lain, menjaga kelangsungan hidup diri dan
keluarganya, menjadi wirausaha pada kondisi seperti ini adalah pilihan terbaik
karena sifatnya yang bebas dan tidak bergantung pada birokrasi yang
diskriminatif.
Being between things
Orang-orang yang baru
keluar dari ketentaan, sekolah, atau penjara, kadangkala merasa seperti
memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat
mereka seakan berada di tengah-tengah dari dua dunia yang berbeda, namun mereka
tetap harus berjuanfa menjaga kealngsungan hidupnya. Di sinilah biasanya pilihan
menjadi wirausahaa muncul karena dengan menjadi wirausahan mereka bekerja
dengan mengandalkan diri sendiri.
Having positive pull
Terdapat juga orang-orang
yang mendapat dukungan membuka usaha dari mitra kerja, investor, pelanggan,
atau mentor. Dukungan memudahkan mereka dalam mengantisipasi peluang usaha,
selain itu juga menciptakan rasa aman dari risiko usaha. Seorang mantan manajer
di sebuah perusahan otomotif, misalnya, yang memutuskan untuk masuk ke bisnis
suku cadang otomotif, misalnya dengan bahan baku ban bekas, seperti stopper back door, engine mounting, atau mufler
mounting. Perusahaan otomotif tersebut memberi dukungan dengan menampung
produk mantan manajernya tersebut.
6. Teori Goal Directed Behavior
Menurut Wolman (1973),
seseorang dapat saja menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan
tertentu. Teori ini disebut dengan Goal
Directed Behavior.
Teori ini hendak
menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirausaha, motivasinya dapat
terlihat langkah-langkahnya dalam emncapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need
itu sendiri dari skema muncul karena adanya deficit dan ketidakseimbangan
tertentu pada diri individu yang bersangkutan (wirausaha).
Seseorang terjun dalam
dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong
kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan. Dari kacaata
teori need dan motivasi tingkah laku,
seperti menemukan kesempatan berusaha, sampai mendirikan dan melembagakan
usahanya merupakan goal directed behavior. Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki kelangsungan
hidu wirausaha.
7. Teori Outcome Expectancy
Bandura (1986) menyatakan
bahwa outcome expectancy bukan suatu
perilaku tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang
melakukan suatu tindakan tertentu. Outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang
mengenai hasil yan akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku
tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang menganggap
profesi wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka
dia akan berusaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha.
Jenis Outcome Expectancy
Menurut bandura (1986) ada
berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang diharapkan individu dan
setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:
Insentif primer
Merupakan imbalan yang
berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan fisiologis kita seperti makan,
minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat nilainya jika seseorang
dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang makan/minum.
Insentif sensoris
Beberapa kegiatan manusia
ditujukan untk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya.
Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan insemtif
sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus baru untuk dilihat atau
orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan balik sensoris berupa
bunyi musik yang dimainkan.
Insentif sosial
Manusia akan melakukan
sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya.
Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi
secara efektif sebagai imbalan atau hukuman daripada reaksi yang berasal dari
satu individu.
Insentif yang berupa token
ekonomi
Token ekonomi adalah
imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah,
kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain. Hampir seluruh
masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan dengan uang,
individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya, mulai dari
pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lain-lain.
Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang
dengan menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial,
insentif status dan pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar iinternal.
8. Tujuan Pembentukan
Wirausaha
Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya
kekurangan dalam dirinya dan berusaha untk mengatasinya. Kekurangan tersebut
tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap
dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lain-lain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi
karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau
hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta mendapat dukungan dari orang
lain (Shapero & Sokol, 1982).
Pengambilan keputusan menjadi
wirausaha
Perasaan kekurangan
mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif
pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas
informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya
terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman,
1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.
Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi
wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki.
Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai
pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika
melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan
sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman,
1973).
Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan
sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan keputusan menjadi
wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika
seseorang melaukan kegiatan tertentu.
9. Peran Pendidikan dalam
Pembentukan Wirausaha
Masalah pendidikan
sangatlah penting bagi keberhasilan wirausaha. Kegagalan pertama dari seorang
wirausaha adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan.
Sumber kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan
pendidikan tapi miskin pengalamam lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara
pendidikan dan pengalaman adalah faktor utaman yang menentukan keberhasilan
wirausaha. Seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang
mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan serta mau belajar untuk
meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha
sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu
masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir.
10. Faktor-faktor pemicu kewirausahaan
David C. McClelland (1961 : 207) mengemukakan bahwa kewirausahaan
ditentukan oleh motif berprestasi, optimisme, sikap nilai dan status
keswirausahaan. Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal. Faktor-faktor internal meliputi hak kepemilikan (property right), kemampuan/kompetensi (ability/competency) dan insentif,
sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan (environment).
SUMBER:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar