Minggu, 24 November 2013

FANFIC



TITLE       : ARE U MINE?
CHAPTER    : 2/??
PAIRING      : REITA X MIKO, TORA X HARUNA, DLL.
FANDOM     : ALICE NINE, THE GAZETTE, EXIST TRACE, SCANDAL, etc.
GENRE : ROMANCE(???)
RATING      : PG-13
DISCLAIMER : just fiction story. I want to scream that they are mine. but I could be beaten at their fans. so I can only say they are they. not mine.



“Ngg… sumimasen,” sapa Reita ragu-ragu.
Sosok itu pun menoleh, menengadahkan kepalanya pada Reita.
“Ya,” jawab orang itu polos.
JLEB!!!                     
Saat itulah entah mengapa seperti ada anak panah yang menancap di hati Reita. Ya benar. Reita terpikat oleh aura kepolosan yang ada di diri makhluk itu. Untuk kesekian detik Reita tak menedipkan matanya. Masih terlalu terpukau dengan pesona makhluk itu.
Hati-hati jangan sampai terpesona.
Suara Tora seperti mengiang2 kembali di pikiran Reita.
Apa ini yang dimaksud oleh Tora tadi?
Sial !!!
Dia cantik sekali
Ah!! Matanya indah sekali…
Wajahnya imut…
Apa yang sedang kupikirkan?
Batin Reita terus berkonflik.
Akhirnya si nosben sadar dari pikirannya yang kacau.
“Emmh… apakah kau sepupunya Amano Shinji atau yang biasa dipanggil Tora?”
“Iya.”
“Ah, aku ke sini diminta oleh Tora untuk menjemputmu.”
“Kau Reita?” tanya orang itu tiba2 sambil tersenyum. Jenis senyuman yanga dapat membuat jantung berhenti seketika. (author lebay ah!)
“Eh? Tau dari mana?” tanya Reita yang tak menyangka bahwa orang itu sudah mengetahui namanya terlebih dahulu.
“Dari Tora. Tadi dia menelponku. Katanya hari ini dia sedang sibuk, jadi dia tidak bisa menjemputku” jelasnya.
“Oh gitu,” Reita mengangguk.
“Miko,” orang itu tiba2 mengulurkan tangannya.”Panggil saja Ruki.”
Sekali lagi Reita tak menyangka pada Miko yang lebih dulu mengenalkan diri. “Suzuki Akira.” Reita menyambut uluran tangan Miko.
Apa ini? Ada apa denganku?
Batin Reita kembali berkonflik.
“Reita … Reita-san …” panggil Miko sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Reita yang sedang melamun, bengong, atau apalah itu.
“Ah iya,” akhirnya Reita telah kembali ke bumi tercinta setelah beberapa saat jiwanya di bawa terbang oleh alien ke pluto.
( Alien2 : kenapa kami di bawa-bawa?
Author : biar kalian juga bisa eksis. Kasian gue ama kalian. Hidup di dalam piring terbang mulu. Sekali kali hidup dalam baskom terbang noh yang lebih legaan ) *di keroyok para alien*
( Reita : eh author geblek! Napa jadi ke alien? Balik lagi ke inti cerita noh!
Author : 0.o oh iya! *tepok hidung Reita* mana naskahnya?
Reita : *death glare*
Author : mangap om saya sengaja.
Reita : *death glare stadium empat*
Author : *pundung di pojokkan kamar Ruki* )
“Kalo gitu ayo kita pulang sekarang,” ajak Reita.
“Kalo kau tak keberatan, bisakah kita jalan2 sebentar?” pinta Miko.
“Eh tapi …”
“Ayolah kumohon …” bujuk Miko dengan puppy eyesnya.
“…”
“Aku baru pindah kesini dan aku ingin tahu tentang kota ini.”
“Tora belum sempat mengajakku jalan2. Dia terlalu sibuk seperti orang kantoran.”
“Ta-tapi Tora memintaku untuk langsung mengantarmu pulang. Kalau aku mengajakmu jalan-jalan , yang ada nanti kita malah dimarahin sama dia.”
“Tidak akan. Karena ini adalah permintaanku. Ayolah …” Miko terus mebujuk Reita agar membawanya jalan-jalan. Reita pun menyerah.
“Baiklah. Ayo,” jawab Reita pasrah.
“Yeay !!!” seru Miko gembira layaknya orang melarat yang baru saja mendapatkan undian 1 M.
Sebagai tujuan utama Reita mengemudikan mobilnya ke Tokyo Tower. Selama di mobil dalam perjalanan, Miko tak henti-hentinya menampilkan senyumnya karena kagum dengan pemandangan yang dilihatnya. Membuat Reita ikut tersenyum.

Setibanya di Tokyo Tower…
“Ayo kita ke atas,” ajak Reita.
Mereka pun naik ke puncak Tokyo Tower dengan menggunakan lift. Sekali lagi Ruki kagum dengan apa yang dilihatnya.
“Indah sekali,” gumam Miko yang tak melepaskan pandangannya dari panorama di sekitarnya.
“Kau suka?” tanya Reita yang tanapa disadarinya juga terus memandang Miko.
“Iya. Aku suka. Aku bisa melihat keseluruhan kota ini dari sini.” Sekali lagi juga Ruki menampakkan senyum terindahnya hingga membuat sang author pingsan seketika di tempat.
Kita tinggalkan mereka berdua dan bek to ke Tora.
Setelah selesai rapat, Tora kembali ke sekolahnya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Hari ini Rame sensei memberikan tugas matematika kepada kelas 2-4 –kelasnya Tora dan Reita- untuk dikerjakan di rumah. Dan Tora menaruhnya di dalam lokernya. Karena besok harus dikumpulkan dengan terpaksa Tora kembali ke sekolah untuk mengambil buku tugas itu.
Sekolah terlihat sepi. Tak ada siswa lain kecuali dia. Tentu saja. Inikan sudah lebih dari satu jam dari waktu pulang sekolah. Siapa yang mau lama-lama berada di sekolah?
Saat Tora mau menutup lokernya, seseorang mengagetkannya dengan berdiri di belakang pintu lokernya.
“Haruna? Sedang apa kau di sini?” tanya Tora dengan ekspresi kaget.
“Sedang menunggumu. Aku ingin pulang bareng denganmu. Bolehkan?” jawab Haruna dengan senyum cerianya.
“Inikan sudah lebih dari satu jam pulang sekolah. Kenapa kau masih di sini? Kenapa kau tak pulang duluan saja?”
“Aku ingin pulang bareng denganmu. Akhir-akhir ini kita jarang pulang bareng. Aku merindukannya.”
“Tapi bagaimana kau tau aku akan kembali lagi ke sekolah? Kalau aku tak ke sini bagaimana? Apa kau akan tetap menungguku? Hah?”
“Aku tau kebiasaanmu Tora-kun. Kau selalu menaruh buku tugasmu didalam loker. Abis itu kau akan kembali lagi ke sini untuk mengambilnya.”
“Benarkah?” tanya Tora tak percaya karena pacarnya hafal tentang kebiasaannya itu.
“Tentu saja aku tau,” jawab Haruna.
“Aku bahkan tak menyadarinya. Kau benar-benar tau kebiasaanku ya?” kata Tora sambil mencolek dagu Saga.
“A-aku inikan pa-pacarmu,” jawab Haruna malu-malu.
“Ciieee … dia malu,” goda Tora yang emang seneng melihat pacarnya ini malu-malu.*author juga seneng liat Haruna malu2*
“Ah, Tora jahat.” Haruna memukul lengan Tora pelan.*jiahk! Ni orang napa jadi gini dah? Bodo amat ah.yang penting fic jalan*
“Hahahahahaha . . . Ya sudah. Ayo kita pulang,” Tora menggandeng tangan Haruna.
Terdengar sesekali pembicaraan dari mereka.
“Tadi bagaimana rapatnya?”
“Yah lumayan ribet.”

***************####**************

“Heh Reita, terima kasih ya kau sudah menjemput sepupuku,” kata Tora sambil menaruh bukunya di loker dan mengambil beberapa buku yang akan dipelajari hari ini.
“It’s oke,” jawab Reita yang juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana?” tanya Tora tiba-tiba.
“Eh?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Apanya yang bagaimana?” Reita tak mengerti dengan pertanyaan Tora barusan.
“Miko. Bagaimana dia menurutmu?”
“Eee . . . menurutku dia orang yang baik.”
“Benarkah?” Tora memandang Reita seperti orang yang sedang menyelidiki sesuatu.
“Apa maksud pertanyaanmu?” tanya Reita yang merasa risih diperhatikan seperti itu.
“Kau tak tertarik padanya?”
“APA?!” kontan Reita membelalakkan matanya dan menjatuhkan bukunya saking kagetnya mendengar pertanyaan Tora yang seperti panah nancep pas di kepalanya.
Tora yang melihatnya tingkah temannya itu hanya bisa terkikik geli.
“Calm down Man.” Tora kemudian pergi ke kelas meninggalkan Reita yang tengah bengong.
“Sompret lo !” kata Reita sambil mengambil kembali bukunya yang terjatuh.
To be continue . . .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar